Selasa, 26 Juni 2012

LOGIKA STIGMA


Hingga usia 43 tahun, Rasulullah saw hidup sangat terhormat di tengah masyarakat Quraisy karena kepribadiannya yang istimewa dan terpuji. Quraisy menjulukinya al-Amin, yang berarti orang yang sangat dipercaya. Julukan al-Amin ini teramat istimewa, karena beliau hidup di tengah masyarakat pedagang yang semuanya sangat bergantung kepada kepercayaan (amanah) sebagai penopang utama penghidupannya.

Julukan al-Amin ini tidak didapatkan Rasulullah dengan pencitraan semu, melainkan melalui pembuktian integritas diri yang mengalir sepanjang hidupnya. Sejak usia remaja, Rasulullah sudah berusaha hidup mandiri dengan menggembala kambing milik orang-orang kaya Makkah untuk mendapatkan upah beberapa qirath. (HR Bukhari). Citra amanah semakin melekat setelah beliau menggeluti dunia dagang.

Dan, puncaknya adalah saat beliau berusia 35 tahun, yaitu ketika para pembesar Quraisy terlibat ketegangan panjang yang nyaris mengobarkan perang saudara karena masalah peletakan Hajar Aswad. Menurut Ibnu Ishaq, berdasarkan usulan Abu Umayyah bin Mughirah al-Makhzumi akhirnya mereka sepakat, orang yang pertama masuk masjid adalah yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad. Ternyata orang tersebut adalah Muhammad. Saat itulah mereka serentak berkata, “Ini dia al-Amin. Kami rela menerimanya. Ini dia Muhammad.”

Namun apa yang terjadi delapan tahun kemudian? Setelah Nabi saw mendeklarasikan kenabian dan misi kerasulannya, “Wahai manusia, katakanlah tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya kalian beruntung!” (HR Ahmad), sikap Quraisy sepenuhnya berubah. Mereka tidak hanya mencabut rasa hormatnya kepada Nabi saw, melainkan juga menyematkan sebutan-sebutan buruk guna menjatuhkan martabat dan menodai kehormatannya. Kini, bagi mereka Muhammad adalah seorang gila, pendusta, dukun, atau tukang sihir. Bahkan, nama Muhammad yang berarti terpuji pun mereka ubah menjadi Mudzammam yang berarti tercela. (HR Bukhari).

Tudingan miring Quraisy tidak hanya tertuju pada kepribadian Muhammad saw, karena sasaran utama mereka adalah al-Qur’an yang menjadi bukti kerasulannya. Karenanya, ayat-ayat al-Qur’an hanya dipandang sebagai mitologi yang melegenda (asathir al-awwalin), karya plagiasi yang dipelajari dari pemeluk kitab terdahulu (yu`allimuhu basyar), dan keindahan bahasanya hanya disetarakan dengan karya puisi seorang pujangga besar. Intinya, Quraisy menampik otentisitas al-Qur’an sebagai wahyu Allah, melainkan hanya karya manusia biasa.

Mengapa perubahan sikap Quraisy begitu cepat dan drastis? Mengapa stigmatisasi yang dilakukan Quraisy sangat sporadis? Ada beberapa faktor yang saling terkait dapat menjawab pertanyaan ini, tapi semuanya bermuara pada satu kata, takut. Ketakutan Quraisy tampak begitu jelas dalam pernyataan Walid bin Mughirah al-Makhzumi dalam pertemuan pertama para pembesar Quraisy untuk menyikapi dakwah Rasulullah saw, “Wahai segenap pembesar Quraisy, musim haji hampir tiba dan orang-orang Arab akan datang ke sini. Mereka tentu telah mendengar rumor tentang orang ini (Muhammad). Untuk itu, kalian harus membuat satu keputusan bersama. Jangan berbeda pendapat, sehingga kalian akan terkesan saling menyanggah dan membantah.”

Quraisy begitu ketakutan sehingga harus menggalang kekuatan bersama untuk menghadapi geliat dakwah Islam yang masih seumur jagung. Quraisy menutup seluruh media dan saluran informasi sehingga setiap orang yang datang dari luar Makkah hanya mendapat informasi sepihak tentang dakwah Muhammad saw, tanpa memberi kesempatan sedikit pun kepada beliau untuk melakukan pembelaan dan penjelasan.
Stigma dilakukan oleh pihak yang ketakutan, meskipun mereka besar dan berkuasa. Ketakutan itu muncul dari alasan yang disadari. Dalam hal ini, Quraisy pantas takut karena mereka tahu dakwah yang masih embrio itu menjadi ancaman nyata bagi kepentingan-kepentingan besarnya. Quraisy sadar, sebuah kekuatan yang dapat mengambil keputusan di luar Darun Nadwah (rumah parlemen Quraisy) dapat mengubah tatanan ekonomi dan sosial yang selama ini menopang syahwat kalangan al-mutrafun-nya.
Buktinya jelas, jangankan Muhammad saw dengan kapasitas individunya yang terlalu istimewa, seorang budak hitam sekelas Bilal bin Rabah yang sepanjang hidupnya menyerahkan nasib kepada sang majikan, Umayyah bin Khalaf, sanggup menemukan jati diri dan menyatakan kemerdekaan kemauan dan keyakinan. Meskipun jasadnya diperbudak, tubuhnya didera, kehormatannya dihina, tapi Bilal menolak perbudakan kehendak dan keyakinan dengan tetap tegar menyebut, “Ahad, Ahad...” Itulah yang menimbulkan ketakutan dan memunculkan stigma!

Senin, 25 Juni 2012

PELAJARAN DARI KEMATIAN TOKOH MUNAFIK ABDULLAH BIN UBAY BIN SALUL


Berkali-kali al-Qur’an menunjuk orang ini sebagai sosok kontroversi dalam tutur kata dan perbuatannya  yang merugikan Islam dan kaum Muslimin. Hampir setiap ada fitnah yang menimpa kaum Muslimin di Madinah selalu ada peran Abdullah bin Ubay sebagai provokatornya, bahkan peristiwa haditsul ifki (berita palsu) yang menimpa Ummul Mukminin “Aisyah” ra al Qur’an mengisyaratkan Abdullah bin Ubay sebagai pembesar yang mengendalikannya.

Hingga tahun ke sembilan Hijriyah, sepulang Rasulullah saw dari perang Tabuk, di akhir bulan Syawwal Abdullah bin Ubay menderita sakit. Mendengar Abdullah bin Ubay sakit, Rasulullah saw menyempatkan diri untuk membesuknya. Usamah bin Zaid bercerita: “Saya bersama Rasulullah saw mengunjungi Abdullah bin Ubay yang sedang sakit untuk membesuknya. Rasulullah saw mengingatkan Abdullah bin Ubay “Bukankah saya sudah melarang kamu dari dahulu agar tidak mencintai orang-orang Yahudi?” Abdullah bin Ubay menjawab sekenanya, “Dulu Sa’d bin Zurarah membenci orang-orang Yahudi, kemudian Sa’d bin Zurarah mati.”

Rasulullah saw tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang bermartabat meskipun kepada orang yang sering Rasulullah ketahui dari Allah SWT sebagai pembuat masalah dan fitnah di dalam barisan kaum Muslimin. Secara zahir Abdullah bin Ubay menunjukkan dirinya sebagai seorang Muslim, maka ia berhak mendapatkan hak keIslaman itu dengan dibesuk ketika sakit.

Pada bulan kerikutnya, bulan Dzulqa’dah Abdullah bin Ubay wafat. Anak lelaki Abdullah bi Ubay, yang bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay datang menemui Rasulullah saw, meminta salah satu kain Rasulullah saw untuk dijadikan sebagai kafan bagi Abdullah bin Ubay, ayahnya. Dan Rasulullah saw mengabulkan permintaan itu dan memberikan kainnya kepada Abdullah bin Abdullah bin Ubay untuk menjadi kafan bagi jenazah ayahnya.

Kemudian Abdullah bin Abdullah juga meminta agar Rasulullah saw berkenan datang menshalatkannya. Maka Rasulullah saw datang untuk menshalatkan jenazah itu. Ketika Rasulullah saw berdiri hendak menshalatkannya, Umar bin Khaththab menarik baju Rasulullah saw dari belakang dan berkata: “Wahai Rasulullah, Engkau akan menshalatkannya? Bukankah Allah melarangmu untuk menshalatkannya?

Rasulullah saw menjawab: “Sesungguhnya Allah SWT memberikan kepadaku dua pilihan kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS at-Taubah:80) Dan saya akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.

Umar berkata: “Sesungguhnya dia itu orang munafiq”. Setelah Rasulullah saw menshalatkannya, barulah turun ayat: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik. (QS. At-Taubah:84)

Rasulullah saw menshalatkannya ketika itu karena memperlakukannya secara zahir, yaitu pengakuan Abdullah bin Ubay bahwa ia seorang Muslim. Dan Islam mengajarkan ummatnya untuk memperlakukan manusia sesuai dengan kondisi zahirnya, urusan hati dan batinnya adalah kewenangan Allah SWT.

Bisa juga dimaknai bahwa Rasulullah saw menshalatkan Abdullah bin Ubay –tokoh munafiq itu- untuk menghormati anaknya –Abdullah bin Abdullah bin Ubay- yang merupakan salah satu sahabat mulia. Sedangkan pemberian kain Rasulullah saw sebagai kain kafan Abdullah bin Ubay bisa difahami sebagai pembuktian karakter Rasulullah saw yang tidak pernah menolak permintaan siapapun selama Rasulullah saw memilikinya. Bisa juga difahami bahwa Rasulullah saw tidak pernah melupakan kebaikan Abdullah bin Ubay –tokoh munafiq itu- di samping keburukannya yang tidak terhitung.
Bagi Abdullah bin Abdullah bin Ubay kematian ayahnya itu menjadi salah satu bukti bahwa berbakti kepada orang tua tetap dilakukan oleh seorang anak, meskipun ia tahu bahwa ayahnya bergelimang dosa dan berlumur maksiat. Selama orang tua itu tidak menyuruhnya berbuat maksiat atau melarangnya beramal shalih.
Orang baik akan senantiasa membuat kebaikan meskipun kepada orang  yang tidak baik. Sedangkan orang yang tidak baik akan terus membuat keburukan meskipun kepada orang yang membuat kebaikan.  Wallahu a’lam.

Minggu, 24 Juni 2012

WONG FEI HUNG

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.

Sabtu, 23 Juni 2012

DESERSI


Keputusan untuk menghadang serangan kaum kafir Quraisy Makkah di luar Madinah telah diambil. Pilihan waktu dan rute perjalanan ini menggambarkan kehati-hatian kerja. Ketika melintasi kebun kurma milik Murabba’ bin Qaizhiy –seorang munafiq yang sudah rabun penglihatannya- ketika merasa Rasulullah saw melintasi kebunnya bersama kaum Muslimin, pemilik kebun itu melemparkan debu sambil berakata:”Jika engkau adalah Rasulullah, maka saya tidak halalkan engkau memasuki kebunku”. Hampir saja ada sahabat yang hendak menghampiri dan membunuhnya tetapi Rasulullah mencegahnya. “Jangan dibunuh, orang ini sudah buta mata dan buta hati”.

Rasulullah saw bersama kaum terus bergerak. Dan ketika sampai di As Syawath –nama salah satu perkebunan antara Madinah dan Uhud- Abdullah bin Ubay bin Salul melakukan desersi, mundur dari pasukan kaum muslimin, dengan membawa tiga ratusan orang pengikutnya.

Abdullah berasalan bahwa sudah menempuh perjalanan begitu jauh masih belum juga ada perang dengan musyrikin Makkah. Ia menganggap bahwa berita perang itu bohong, tidak terbukti. Abdullah juga menilai bahwa keputusan menghadang kaum kafir Qurasiy di luar Madinah adalah keputusan yang salah. Ia melihat bahwa menghadang musuh di luar Madinah adalah usulan anak-kecil dan orang-orang yang belum punya pengalaman. Ia menyalahkan Rasulullah saw yang menerima pendapat mayoritas kaum muslimin dalam musyawarah untuk memutuskan cara menghadapi serangan kafir Quraisy Makkah,  dengan mengatakan, “Muhammad lebih mentaati anak-anak kecil yang belum punya pikiran. Ia menurutinya dan mendurhakai kita. Mengapa kita mengorbankan diri untuk mengikuti pendapat orang lain?”

Mundurnya Abdullah bin Ubay bin Salul dengan membawa tiga ratusan orang pengikutnya berdampak besar bagi kekuatan kaum muslimin yang masih sangat minim. Desersi itu menimbulkan kepanikan dan goncangan yang sangat kuat bagi pasukan kaum muslimin. Semangat sebagian pasukan terganggu oleh tindakan itu. Sebaliknya desersi ini membangkitkan kebaranian kaum kafir Quraisy, dan menaikkan semangatnya untuk menyerang kaum muslimin, menebus kekalahan mereka di perang Badr tahun sebelumnya.

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam Keadaan kamu 
sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, Maka bagimu pahala yang besar. QS. Ali Imran: 179

Abdullah bin Amr bin Haram telah berusaha meyakinkan kaum munafiq ini untuk kembali bergabung dengan kaum muslimin. Kata Abdullah bin Amr bin Haram:”Wahai kaumku, saya ingatkan kalian semua kepada Allah, agar tidak membiarkan kaum dan Nabi kalian ketika datang musuh menyerang”.

Mereka menjawab: “Kalau betul kalian akan berperang pastilah kami tidak akan membiarkan kalian. Tetapi faktanya kami tidak melihat akan ada perang”. Ketika mereka menolak untuk tetap bergabung bersama pasukan kaum Muslimin.

Abdullah bin Amr bin Haram berkata, “Semoga Allah jauhkan kalian, musuh-musuh Allah, pastilah Allah tidak memerlukan kalian”. Tentang mereka inilah Allah turunkan ayat:
Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, Maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". mereka berkata: "Sekiranya Kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah Kami mengikuti kamu". mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. QS. Ali Imran: 166-167

Mundurnya Abdullah bin Ubay bin Salul bersama tiga ratusan orang pengikutnya ini sempat mempengaruhi semangat Bani Salimah dan Bani Haritsah untuk ikut melakukan desersi, mundur dari barisan kaum muslimin, akan tetapi Allah SWT meneguhkan hati mereka dan menjaga mereka. Kata Jabir bin Abdillah:”Ayat ini turun tentang kami -. ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, Padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu.... QS. Ali Imran:122. Wallahu a’lam

GESEKAN PERSAHABATAN


Suasana santai Rasulullah saw bersama Abu Darda ra mendadak berubah serius ketika muncul Abu Bakar As Shiddiq ra yang datang tergopoh-gopoh, berjalan bergegas, menyisingkan kainnya, sehingga hampir tampak kedua lututnya. Dari kejauhan Rasulullah saw memandangi Abu Bakar ra dan berkomentar: “Sesungguhnya sahabatmu itu sedang ada keperluan serius”.

“Assalamualaikum....” Abu Bakar ra menyapa Rasulullah saw dan para sahabat. Setelah dijawab salam itu kemudian Abu Bakar mengadukan masalahanya: “Ya Rasulullah saw, sesungguhnya tadi saya ada sedikit masalah dengan Umar, saya agak tergesa-gesa kepadanya, sehingga membuatnya agak kesal. Kemudian saya menyesali kejadian itu. Saya telah memintanya agar ia bersedia memaafkan saya, tetapi Umar menolak. Saya sempat menyusulnya ke Baqi’, saya tunggu ia keluar dari rumahnya tetapi tetap saja ia menolak memaafkan kesalahan saya. Sehingga saya datang ke mari menghadap engkau Wahai Rasulullah”.

Persahabatan sangat mudah terkoyak oleh gesekan-gesekan kecil dan goresan yang terkadang menyisakan rasa kesal dan kecewa. Padahal persahabatan itu sulit membina dan membangunnya. Maka mempertahankan persahabatan sangat diperlukan kesadaran diri dan keterbukaan untuk bisa memaafkan kekhilafan sahabat yang lain.

Menanggapi kegelisahan Abu Bakar ra yang nyaris putus asa untuk mendapatkan maaf dari Umar, Rasulullah saw berdoa: “Semoga Allah memberikan ampunan untukmu Wahai Abu Bakar”. Dan untuk menunjukkan kesungguhan doa itu, Rasulullah saw mengulangi doa itu tiga kali.

Rasulullah saw pendidik sejati yang mampu meredam kegelisahan sahabatnya, dengan mendekatkannya kepada Allah SWT. Sikap kebapakan yang mengayomi dan solutif inilah yang menyebabkan para sahabat tidak segan-segan mengadukan masalah-masalah pribadinya kepada Rasulullah saw. Para sahabat optimis jika mengadukan masalah kepada Rasulullah saw akan ada solusi dan tidak menyisakan polusi.

Di sisi lain, Umar bin Al Khaththab ra mulai juga menyesali sikapnya “Kenapa menolak memaafkan Abu Bakar, ketika Abu Bakar meminta maaf atas kekhilafannya?”. Umar bin Al Khaththab ra pergi ke rumah Abu Bakar ra. Dan ketika sampai di rumah Abu Bakar, Umar tidak menemukan Abu Bakar di rumahnya. Keluarga Abu Bakar memberitahukan bahwa kemungkinan besar kalau tidak ada di rumah Abu Bakar biasanya berada bersama Rasulullah saw.

Umar bin Al Khaththab  ra  begegas menemui Rasulullah saw dengan harapan mendapatkan Abu Bakar ra di sana dan dapat menyelesaikan masalahnya itu dengan sebaik baiknya. Umar bin Al Khaththab  ra tidak ingin memendam masalah yang tidak terselesaikan dengan baik kepada para sahabatnya khususnya Abu Bakar As Shiddiq.

Melihat kedatangan Umar bin Al Khaththab  ra, wajah Rasulullah saw berubah dan tampak marah, sehingga Abu Bakar ra tampak kasihan dan tidak ingin Umar bin Al Khaththab  ra mendapatkan kemarahan dari Rasulullah saw. Abu Bakar ra ketakutan hingga duduk tersungkur dan berkata: “Ya Rasulallah, saya yang salah, saya yang telah melakukan kezhaliman”. Dua kali Abu Bakar ra mengulang pernyataannya itu, mengiba agar Rasulullah saw tidak marah kepada Umar bin Al Khaththab ra.

Tampak dari cara Rasulullah saw menerima Umar bin Al Khaththab ra, ketidak senangannya jika ada orang yang menolak memaafkan sahabatnya yang telah menyadari kekhilafan dan meminta maaf. Seseorang yang telah mengakui kesalahannya secara psikis ia telah kalah, maka tidak pantas untuk ditambah penderitaannya dengan tidak mendapatkan maaf dari sahabatnya. Dan Abu Bakar ra tampak begitu mulia dan cintanya kepada Umar bin Al Khaththab ra. Ia bersedia menanggung kesalahan itu hanya ada di pundaknya dan berusaha membebaskan Umar bin Al Khaththab ra dari kesalahan.

Begitulah persahabatan dibangun, dikelola dan diperbaiki jika ada gesekan, atau goresan luka. Masalah dalam mu’amalah adalah keniscayaan, dan yang terpenting adalah cara indah dalam menemukan solusi.

Rasulullah saw kemudian mengingatkan kepada seluruh ummatnya secara umum untuk mengingat prestas dan kebaikan orang lain. Rasulullah bersabda: “Wahai manusia semua, seungguhnya Allah SWT mengutusku kepada kalian semua, lalu kalian semua mendustakanku, tetapi Abu Bakar membenarkan dan mengimaniku. Ia telah melipurku dengan jiwa, raga dan hartanya. Bersediakah kalian memaafkan sahabatku ini? Rasulullah mengulang pertanyaannya itu tiga kali. Dan setelah peristiwa itu, Abu Bakar ra tidak terganggu lagi.